Rintik air tumpah dari awan yang sedari tadi kelabu. Deras, mengguyur bumi dalam sekejap. Orang-orang yang sedang beraktifitas di luar sibuk berlari ke dalam rumah, yang mereka sebut tempat berlindung. “Bagus, ini kesempatan.”, pikirku. Berlawanan arah dengan orang-orang itu, aku berlari ke luar, ke tengah-tengah hujan. Semakin lama semakin sedikit orang yang berada di luar, hingga akhirnya, aku sendiri.

Inilah yang kusuka dari hujan. Aku bisa berada di duniaku sendiri tanpa ada yang mengganggu. Tak ada yang melihat bila aku menangis. Tak ada yang mendengar bila aku berteriak frustasi. Tak ada yang tahu pelampiasan rasa kecewaku, pada dunia ini, tak terkecuali isinya. Aku berlari dalam hujan, tak peduli jika orang mengaggapku gila, jika ada yang melihatku. Aku berusaha membebaskan pikiran dari segala penat. Aku melampiaskan semua kekesalanku, semua amarahku, semua kesedihanku.

Potongan gambar-gambar kehidupanku berjejalan memenuhi otakku. Seolah sedang menonton film ber-genre hurt/tragedy, benar-benar tak ada kebahagiaan dalam hidupku. Kecuali masa-masa balita yang singkat, mungkin. Penolakan, pengacuhan, ketidapedulian, hal-hal seperti itulah yamg mewarnai kehidupan kelamku. Apa lagi yang harus kuperbuat agar mereka mau memedulikanku? Apa lagi yang harus kuperbuat agar mereka menyadari keberadaanku? Aku sudah kehilangan akal. Aku sudah muak dengan semuanya!

Mungkin tubuhku sudah gemetar, kulitku sudah memucat, bibirku sudah membiru. Tapi aku tak peduli, aku terus berdiri di tengah hujan yang turun semakin deras. Aku berharap hujan akan terus turun, jangan berhenti, karena aku belum selesai melampiaskan rasa frustasiku. Mungkin, tak akan pernah…

(created by: narazaoldyeck. ga tau kapan yg jelas pas melankolisku kambuh)

rain