*Terinspirasi dari cerita Momiji Soma di anime “Fruits Basket”

Pada zaman dahulu kala, ada seorang pengelana yang sedang mengembara. Dalam perjalanan, karena ia sudah cukup lama berjalan, mampirlah ia di sebuah kedai. Uang sisa bekalnya tinggal sedikit, tapi karena perutnya lapar, maka ia membeli makanan dengan lauk sederhana. Baru saja sang pengelana akan menyuapkan makanan ke dalam mulutnya, tiba-tiba ada seorang anak kecil yang menangis. Si pengelana bertanya kenapa anak itu menangis. Dengan masih terisak-isak si anak menjawab bahwa ia belum makan sejak pagi. Sebenarnya sang pengelana juga belum makan sejak kemarin, tapi karena kebaikan hatinya, ia berpikir bahwa anak itu lebih membutuhkan makan. Sang pengelana memberi makanan itu pada si anak. Si anak pun berhenti menangis, lalu langsung pergi tanpa mengucapkan apapun.

Sang pengelana lalu melanjutkan perjalanan. Saat hari mulai gelap ia memutuskan untuk bermalam di bawah sebuah pohon yang rindang. Baru saja matanya akan terlelap, ada suara seorang pemuda yang membangunkannya. Bisakah kau memberiku uang, tanya si pemuda itu. Aku menghilangkan uang ayahku, dan aku akan dihajarnya kalau tidak segera mendapat gantinya. Dengan kemurahan hatinya, sang pengelana memberikan sisa uang yang ia miliki pada si pemuda. Si pemuda pergi, seperti anak yang tadi, tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Keesokan harinya, sang pengelana berencana untuk melanjutkan perjalanannya meninggalkan desa itu. Di perbatasan desa, di kedai yang kemarin, sang pengelana melihat makanan yang kemarin ia beri kepada seorang anak dibuang ke tempat sampah. Sementara anak itu kini sedang bermain-main bersama temannya. Ketika sang pengelana lewat anak itu berkata, “Hei, makananmu tidak enak! Dasar bodoh, dengan mudahnya kau tertipu, padahal mana mungkin aku akan memakan makanan sampah seperti itu!”, dengan diringi derai tawa teman-temannya. Sang pengelana hanya tersenyum, lalu kembali berjalan dan berkata dalam hati, ‘Setidaknya makanan yang kuberi telah memberi pelajaran bagi anak itu untuk tidak pernah memakannya lagi.’

Keluar dari perbatasan, sang pengelana bertemu pemuda yang tadi malam ia beri uang. Si pemuda berkata, “Hei, bodoh, terimakasih atas uangnya, berkat kamu aku bisa berjudi semalam suntuk bersama teman-temanku.” Si pemuda kembali tersenyum dan melanjutkan perjalanan. Dalam hati ia berkata, ‘Pemuda itu terlihat senang, setidaknya aku telah membuat orang merasa bahagia.’

Di desa lain, karena saat itu akhir tahun, salju mulai berjatuhan. Dinginnya yang menusuk tulang membuat siapapun pasti membutuhkan baju hangat untuk bisa bertahan di luar. Sang pengelana tidak punya mantel. Satu-satunya baju yang ia punya hanyalah yang sedang melekat di badannya. Saat malam tiba, ia berusaha menghangatkan tubuhnya dengan menggosok-gosokan kedua telapak tangannya. Tiba-tiba ia melihat seorang nenek yang sedang berjalan tanpa mantel. Si nenek terlihat sangat kedinginan.

Sang pengelana menghampirinya, lalu bertanya, “Nek, kenapa kau keluar tanpa memakai mantel, bukankah cuaca sangat dingin?” Si nenek sambil menggigil menjawab, “Ya anak muda, aku tak punya mantel, aku hanyalah seorang janda tua miskin, maukah kau memberiku mantel?”
“Seandainya aku punya, pasti akan kuberikan. Tapi sayang aku sendiri juga tak punya, dan uangku sudah habis. Pakailah bajuku saja, Nek. Setidaknya dengan pakaian dobel cukup untuk sementara menghangatkan badanmu.”, jawab sang pengelana. Lalu ia melepas bajunya dan memberikannya pada si nenek. Nenek itupun langsung pergi. Kini sang pengelana amat sangat kedinginan tanpa baju yang melindungi kulitnya. Sang pengelana pun terpaksa menggunakan dedaunan untuk ia jadikan baju.

Keesokan harinya, kembali sang pengelana melanjutkan perjalanan. Kali ini ia harus masuk ke hutan. Sebelum masuk hutan, sang pengelana melihat nenek tua yang tadi malam ia beri bajunya sedang menjual baju itu, bersama seorang kakek yang adalah suaminya. Sang pengelana tersenyum. Mungkin nenek itu memang sangat membutuhkan uang, pikirnya.

Di dalam hutan, sang pengelana bertemu dengan sesosok makhluk. Ternyata ia adalah goblin, dan goblin itu berkata bahwa ia membutuhkan sang pengelana, lalu meminta sang pengelana untuk masuk lebih dalam ke hutan. Sang pengelana tentu saja dengan senang hati berniat membantu si goblin. Setelah mereka sampai ke bagian hutan yang lebih gelap, si goblin berkata, “Aku lapar, sangat lapar. Aku membutuhkan tubuhmu untuk makananku. Bolehkah?” Sang pengelana berkata, “Jika memang itu kau butuhkan, aku tak keberatan.”

Si goblin langsung melahap tubuh sang pengelana. Pertama-tama tangannya, lalu kakinya, begitu seterusnya hingga yang tersisa hanyalah bagian kepalanya. Si goblin bertanya dengan heran mengapa sang pengelana tidak berontak bahkan tidak berteriak sedikitpun. Sang pengelana menjawab, “Kalau aku berteriak, aku akan menghambatmu untuk melahapku. Sehingga kau tak bisa merasa kenyang dengan segera.” Selesai berkata begitu, sang goblin langsung melahap mata sang pengelana, bagian ternikmat dari tubuh sang pengelana selain hatinya. Si goblin lalu memberikan secarik kertas yang sebelumnya ia tulisi kata “BODOH”, dan berkata, “Ini hadiah untukmu, terimakasih atas santapan lezatnya”, lalu pergi.

Sang pengelana, yang telah kehilangan matanya, tidak tahu apa isi tulisan itu. Ia berkali-kali mengucapkan “Terimakasih, terimakasih, aku sangat senang. Baru kali ini ada yang mengucapkan terimakasih padaku dan memberi hadiah padaku. Terimakasih…”

Air matanya terus bercucuran karena perasaan haru dan bahagia meski ia tidak mempunyai mata. tak lama kemudian, sang pengelana menghembuskan nafas terakhirnya. Ia meninggal dengan seulas senyuman bahagia.

Semua orang dalam cerita ini berpikir bahwa tindakan sang pengelana itu bodoh. Ya, kebaikan hatinya memang terkesan tidak rasional. Tapi apakah itu bisa dibilang sebagai sebuah kebodohan? Sang pengelana melakukannya dengan ikhlas, ia bahagia telah menolong orang lain. Dan meski sudah tau bahwa mereka hanya memanfaatkannya, ia tetap tersenyum dan positive thinking.
Bisakah kita seperti itu? Atau bahkan, adakah orang seperti itu di dunia ini saat ini?
 
Saya sendiri mengakui bahwa saya tidak bisa bahkan mungkin tidak akan bisa. Bukan untuk bertindak seperti sang pengelana, hanya untuk selalu berpikir positif dan tersenyum menghadapi semua masalah saja saya tidak bisa. Tapi saya bersyukur, setidaknya meski tidak bisa melakukannya, saya tak akan sembarangan menganggap seseorang sebagai orang “bodoh”.

Ada banyak tokoh ‘bodoh’ dalam anime/manga Fruits Basket ini. Maksudnya, bodoh dalam artian positif. Meski orang menganggap mereka bodoh, tapi saya merasa bahwa sebenarna mereka adalah orang-orang jenius. Mereka rela berkorban demi kebahagiaan orang lain. Bukan pengorbanan yang sia-sia sama sekali, justru sebaliknya.

Tokoh utamanya, Toru Honda, telah meluluhkan hati karakter-karakter lain bahkan sang pemimpin klan Soma, Akito, yang bersikap sangat keras. Akhirnya satu persatu dari mereka menyadari kebahagiaan  dalam arti sesungguhnya. Memang bukan kebahagiaan abadi, tapi mereka menikmatinya, sebagai suatu kehangatan. Kebahagiaan sejati ada ketika kita bisa membuat orang lain merasa bahagia. Memang perlu pengorbanan untuk itu, tapi itulah kenikmatannya.

Momiji sendiri, yang menceritakan tentang cerita sang pengelana bodoh ini, dan dengan yakin mengatakan bahwa tindakan sang pengelana bukan bodoh, menurut saya sifatnya sama seperti sang pengelana. Meski ia tak memberikan semua yang ia miliki, namun ia telah bertindak mulia dengan merelakan ingatan ibu kandungnya sendiri tentang dirinya dihapus. Ia melakukan itu dengan ikhlas saat ia masih sangat kecil, karena ia amat mencintai ibunya. Satu-satunya jalan agar ibunya bahagia adalah dengan menghapus ingatannya, karena ibunya menolak memiliki anak seperti ia yang bisa berubah menjadi binatang dalam zodiak Cina jika dipeluk oleh lawan jenis. Momiji tetap memperhatikan ibunya dan adik kecilnya dari jauh. Dan ia tetap tersenyum seperti anak kecil yang tak mengenal kesedihan.

Masih banyak cerita gelap karakter-karakter lainnya. Dan akhirnya mereka bisa menghadapi masalahnya dengan berani. Andaikan saya bisa seperti itu, tidak terus-terusan menjadi pengecut yang hanya bisa sembunyi. Susah, tapi harus mencoba!

thumbs up buat sang pengarang Furuba, Natsuki Takaya.🙂